Thursday, November 19, 2015

Dokumen Administrasi

Selain research tools, sebuah survei khususnya yang dilakukan oleh perusahaan/ lembaga harus dilengkapi oleh sejumlah dokumen administrasi. Dokumen administrasi ini akan menjadi tanda pengenal bagi pewawancara sehingga tidak dicurigai oleh masyarakat ketika melakukan survei di lapangan. Dokumen administrasi ini terdiri dari surat tugas, kartu identitas, juklak pemilihan responden dan daily contact sheet.

1.    Surat Tugas
Surat tugas wajib diberikan oleh pelaksana riset kepada pewawancara yang melakukan survei di lapangan. Surat tugas ini merupakan bukti yang secara sah menunjukan bahwa pewawancara tersebut memang berwenang untuk melakukan survei. Surat tugas ini akan membantu responden ketika responden menanyakan identitas pewawancara/ petugas lapangan dan untuk melakukan koordinasi dengan aparat setempat. Ketika memberikan surat tugas, peneliti wajib menyertakan kartu identitas petugas.

2.    Kartu Identitas
Setiap petugas lapangan atau pewawancara wajib memiliki kartu identitas yang menunjukan bahwa orang tersebut memang petugas yang ditunjuk untuk melakukan survei. Kartu identitas ini dibuat oleh peneliti atau perusahaan riset.

3.    Juklak Pemilihan Responden
Juklak pemilihan responden ini berisi tata cara memilih responden yang tepat. Juklak ini biasanya diberikan ketika briefing atau pelatihan petugas lapangan. Juklak ini juga berisi jadwal pelaksanaan survei.



4.    Daily Contact Sheet
Setiap hari pewawancara memberikan laporan kepada pengawas yang kemudian mencatatnya ke dalam sebuah lembar laporan yang disebut daily contact sheet. Lembar ini berisi siapa pewawancara, siapa yang menjadi responden, dimana lokasi responden, dimana survei dilakukan, apakah responden yang disurvei tersebut sesuai dengan kriteria screening dan sebagainya.



Jika terdapat kuesioner yang di-drop maka petugas memberikan keterangan mengapa kuesioner tersebut di drop. Laporan akhir dari daily contact sheet ini nantinya disertakan dalam laporan hasil riset.

Haruskah Memberikan Gift?
Gift adalah cenderamata yang diberikan oleh peneliti kepada responden sebagai ucapan terima kasih karena sudah berpartisipasi di dalam survei yang dilaksanakan. Memang tidak setiap survei wajib memberikan gift kepada responden, namun dengan memberi gift peneliti berharap akan memperoleh sejumlah keuntungan seperti: membantu meningkatkan partisipasi responden untuk mengikuti survei dengan sungguh-sungguh, memudahkan pewawancara mengajukan pertanyaan yang banyak, dan membangun relasi yang baik dengan responden sehingga jika ada survei berikutnya akan lebih mudah untuk menghubungi kembali.  Riset yang dilakukan secara tatap muka seperti interview sebaiknya memberikan gift, namun untuk survei yang berupa self-administered peneliti perlu berhati-hati. Pada prinsipnya responden mendapatkan gift tersebut karena kerelaan mereka mengikuti survei dengan sungguh-sungguh, tetapi jawaban responden tidak boleh terpengaruhi oleh ada/tidaknya gift.

Wednesday, November 18, 2015

Tahap Perencanaan Survei

Sebuah survei yang baik dimulai dari membuat perencanaan yang baik. Meskipun membuat perencanaan merupakan tahap yang penting namun sering kali kita kurang mempersiapkan tahap ini sehingga ketika menemukan hambatan pada saat pelaksanaan kita menjadi kurang siap. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan membahas apa saja yang perlu disiapkan sebelum melakukan survei.

Tahap perencanaan survei dimulai dari menetapkan tujuan dan ruang lingkup survei, termasuk populasi sasaran. Setelah mendapatkan definisi yang jelas mengenai tujuan survei dan siapa yang menjadi populasi sasaran, kita lalu menentukan sampel untuk survei (dari populasi tersebut). Langkah berikutnya adalah mempersiapkan instrumen-instrumen untuk survei yang terdiri dari kuesioner, research tools, dokumen-dokumen administrasi, dan gift. Terakhir yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan tenaga lapangan.

Research tools
Research tools merupakan sekumpulan benda yang dibutuhkan untuk melaksanakan survei, dimana jika alat-alat tersebut tidak ada maka survei tidak dapat dilakukan. Research tools ini biasanya terdiri dari kartu-kartu bantu, kartu responden, blanko peta lokasi survei, random grid dan alat-alat peraga.

1.    Kartu Bantu
Beberapa pertanyaan mungkin agak susah dipahami oleh responden sehingga peneliti perlu mempersiapkan kartu bantu yaitu sejenis kartu yang berisi skala atau pilihan jawaban yang nanti ditunjukan kepada responden.














2.    Kartu Responden
Karu responden adalah sejenis kartu yang digunakan sebagai bukti bahwa responden tersebut sudah mengikuti survei. Berikut ini contoh kartu responden.

Cara pengisian kartu responden:
  • Bagian ①kartu ucapan terima kasih disimpan oleh responden
  • Bagian ② yaitu kartu yang disimpan oleh backchecker  dan dilengkapi dengan tanda tanga responden (jika nanti akan dilakukan back-checking, jika tidak dilakukan back-checking bagian ini disimpan oleh responden).
  • Bagian ③ yaitu kartu tanda wawancara disimpan oleh interviewer setelah wawancara selesai dan dilengkapi juga dengan tanda tangan responden.
  • Bagian ④ yaitu kartu tanda responden yang disertakan bersama kuesioner.


3.    Blanko Peta Lokasi Survei
Blanko ini berisi gambaran wilayah/ lokasi dari sampel. Biasanya blanko ini dilengkapi dengan nama riset, perusahaan/individu yang melakukan riset, nomor Primary Sampling Unit (PSU), nama kelurahan/desa, dan RT/RW dimana responden tinggal. PSU adalah data pada level paling bawah yang dimiliki oleh peneliti. Misalnya peneliti hanya memiliki data untuk kelurahan saja.






















Cara membuat peta lokasi:
  • Lakukan pendataan di tingkat RT tersebut. Cari tahu ada berapa Unit Tempat Kediaman (UTK), misalnya UTK adalah rumah tangga.
  • Buat peta lokasi lingkungan tersebu dimulai dari rumah kepala RT atau pimpinan masyarakat. Peta jalan dan bangunan harus sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
  • Pemilihan rumah tangga adalah setiap kelipatan k, dimana k adalah jumlah UTK di RT tersebut dibagi dengan jumlah sampel rumah tangga yang harus diambil dari RT tersebut.
  • Beri tanda nomor pada UTK-UTK yang terpilih menjadi sampel sesuai dengan urutan kedatangan. Aturan pemilihan UTK ini akan dibahas di bab berikutnya mengenai house-to-house interview.


4.    Random Grid
Random grid merupakan sebuah tabel bantu yang digunakan untuk memilih dan mencatat lokasi mana yang dipilih untuk diambil sampel. Ambil contoh kita ingin meneliti konsumen mie instant di kelurahan Jati Padang. Dari data yang diperoleh di kelurahan Jati Padang terdapat 10 RW. Dari kolom nomor kita lingkari nomor 10 lalu tarik garis horizontal. Nomor PSU berada pada interval 1 sampai 10, kemudian secara acak terpilih angka 4. Pemilihan ini sudah dilakukan oleh research executive sebelumnya. Dari angka 4 di kolom angka random tarik garis vertikal hingga nanti bertemu dengan garis horizontal yang kita tarik tadi. Akhirnya diperoleh angka 2 yaitu RW 2 yang menjadi lokasi dimana sampel akan diambil. Setelah mendapatkan lokasi RW kemudian kita menentukan RT mana yang akan dipilih. Misalnya di RW 2 terdapat 12 RT. Sama seperti ketika memilih RW kita tarik garis horizontal dari angka 12. Lalu tarik garis vertikal dari angka 8 yang merupakan perolehan dari sistem acak. Hasil akhirnya diperoleh RT 9. Jadi penilitian kita akan mengambil sampel rumah tangga di RT 9, RW 2, Kelurahan Jati Padang, Kecamatan Pasar Minggu. Setelah memperoleh lokasi kemudian kita menuju lapangan dan mengisi blanko peta lokasi.



5.    Alat Peraga
Beberapa pertanyaan dan pilihan jawabannya mungkin sulit dipahami oleh responden. Oleh karena itu untuk pertanyaan yang abstrak akan lebih baik jika disertai dengan alat peraga. Misalnya untuk menanyakan apakah konsumer sudah puas dengan layanan yang disediakan oleh provider telekomunikasi kita dapat menggunakan alat peraga yang menunjukan tingkat kepuasan tersebut seperti di bawah ini.


Tuesday, November 17, 2015

Merancang Sebuah Riset

Riset adalah sebuah metode untuk mengumpulkan informasi penting yang dilakukan secara sistematis dan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kegiatan pengumpulan informasi jika tidak sesuai dengan kaidah ilmiaah tidak dapat dikatakan sebagai riset. Seperti halnya wartawan yang sehari-hari mengumpulkan informasi dan fakta atas suatu kejadian tidak dapat kita katakan bahwa wartawan tersebut melakukan riset karena wartawan tersebut tidak mengikuti prosedur penelitian yang ilmiah. Dalam kaidah ilmiah, sebuah informasi haruslah berdasarkan fakta, valid, dapat diandalkan (reliable) dan mungkin dapat digeneralisasikan.

Memilih Pendekatan Riset : Kualitatif dan Kuantitatif

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai desain riset ada baiknya kita memahami terlebih dahulu berbagai pendekatan riset. Secara umum pendekatan riset (research approach) terdiri dari dua yaitu pendekatan riset kualitatif dan riset kuantitaif. Klasifikasi riset ini berdasarkan tujuan atau jenis data yang ingin diperoleh. Jika peneliti ingin mengeksplorasi suatu hal secara mendalam maka sebaiknya menggunakan pendekatan riset kualitatif. Namun jika peneliti ingin membuat sebuah kesimpulan atau memeriksa hubungan dari sebuah fenomena maka akan lebih “pasti” jika menggunakan pendekatan riset kuantitatif.
Pendekatan riset kualitatif biasanya dilakukan untuk menemukan suatu permasalahan. Misalnya, untuk menemukan kekurangan produk dibandingkan dengan produk dari kompetitor, maka peneliti perlu mengeksplor pendapat responden mengenai produk tersebut sehingga dapat memperoleh poin-poin dimana produk tersebut “kalah” bila dibandingkan dengan produk lain. Sebaliknya, jika perusahaan sudah mengetahui poin-poin kelemahan produk sendiri namun belum mengetahui bagaimana cara mengurangi efek negatif dari kelemahan tersebut peneliti dapat menggunakan metode riset kuantitatif.

Sumber data untuk pendekatan riset kualiatatif maupun riset kuantitatif sama-sama dapat berasal dari data primer maupun data sekunder. Pendekatan riset ini sebenanya lebih kepada bagaimana pengolahan data nantinya. Data primer untuk pendekatan riset kualitatif berasal dari hasil wawancara, diskusi kelompok kecil dan observasi. Sementara data sekunder dapat berasal dari kajian sejumlah literatur seperti artikel berita dan jurnal. Pada pendekatan kualitatif data-data tersebut kemudian dijabarkan sehingga menjadi sebuah informasi penting. Riset kualitatif jarang menggunakan angka-angka. Jika menggunakan angka biasanya hanya bersifat deskripsi saja.
Sama seperti riset kualitatif, data untuk pendekatan riset kuantitatif juga terdiri dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer dapat berasal dari sensus, survey yang menggunakan kuesioner, mistery shopper, eksperimen, dan sebagainya. Sementara data sekunder dapat berasal dari data yang disediakan oleh lembaga sensus, laporan dari lembaga/ departemen pemerintahan dan swasta, data dari perusahaan riset lain, data dari penelitian sebelumnya, dan sebagainya. Data sekunder sendiri digunakan karena memiliki sejumlah keunggulan seperti: biaya murah, lebih hemat waktu dan tenaga, terkadang lebih akurat serta beberapa informasi hanya ada di data sekunder. Namun demikian, data sekunder juga memiliki sejumlah kekurangan, seperti: tidak aktual/ terkini, ditujukan untuk tujuan awal yang berbeda sehingga terkadang data tidak sesuai dengan kebutuhan dan memiliki pengawasan yang lebih lemah.

Mempersiapkan Sampel
Menentukan siapa yang akan menjadi sampel dan berapa jumlah yang akan digunakan dalam riset merupakan bagian yang sangat penting dalam membuat desain riset. Hal ini karena sampel tersebut adalah sumber dari informasi yang peneliti butuhkan. Jika peneliti memilih data yang salah otomatis data yang diperoleh menjadi tidak valid dan hanya akan mengarah kepada kesimpulan yang salah.



Pemilihan sampel dimulai dari mendefinisikan populasi penelitian. Setelah kita mendefinisikan populasi, kemudian kita menentukan besarnya sampel dan metode penarikan sampel tersebut.

1.    Mendefinisikan Populasi

Populasi adalah kumpulan individu yang dapat menyediakan data primer yang dibutuhkan dalam riset. Dalam membuat definisi siapa populasi dalam riset yang akan dilakukan, ada empat kriteria yang harus dipenuhi. Pertama, siapa yang menjadi satuan analisis dan satuan pengamatan. Satuan analisis adalah siapa yang dibandingkan, sementara satuan pengamatan adalah siapa yang menjadi responden/ siapa yang memiliki informasi, misalnya dalam penelitian kita ingin mengetahui perilaku konsumen pria usia 20 sampai 30 tahun. Satuan pengamatan ini yang akan menjadi dasar untuk screening nanti.

Kedua, tentukan satuan contohnya. Satuan contoh yaitu apa yang menjadi anggota dalam sampling frame – daftar seluruh anggota populasi yang berpeluang menjadi sampel. Misalnya, satuan pengamatan kita adalah laki-laki yang berusia 20 sampai 30 tahun, maka kita akan membutuhkan data mengenai rumah tangga (di lingkungan mana responden tersebut tinggal) untuk dapat mengetahui “posisi” dari responden tersebut. Ketiga, tanda apa saja yang digunakan untuk membatasi satuan contoh, misalnya sungai, jalan raya, dan lapangan adalah objek-objek yang biasa menjadi pembatas wilayah. Keempat, menentukan batasan waktu yang digunakan sebagai kisaran pengamatan. Misalnya, penelitian untuk melihat konsumsi rokok selama 3 bulan terakhir. Jika riset dilaksanakan pada bulan Juni 2013 maka batasan waktunya adalah konsumsi rokok bulan Maret 2013 hingga Juni 2013.


2.    Menentukan Kerangka Pengambilan sampel (sampling frame)

Setelah membuat definisi populasi yang akan diteliti maka langkah berikutnya adalah membuat kerangka pengambilan sampel. Kerangka sampel merupakan daftar seluruh anggota populasi sasaran dimana sampel akan diambil. Dalam membuat kerangka sampel peneliti tidak boleh sembarangan melainkan harus mengikuti sejumlah aturan. Kerangka sampel yang baik harus memenuhi sejumlah syarat diantaranya: meliputi seluruh objek, setiap objek hanya dihitung satu kali (tidak ada double counting), merupakan data terbaru, memiliki batas-batas yang jelas serta dapat dilacak.


3.    Menentukan Besarnya Sampel

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya survey merupakan metode riset yang menggunakan sebagian anggota populasi. Tidak semua anggota dalam kerangka sampel yang digunakan, hanya mereka yang paling mewakili populasi saja, sehingga jumlah sampel yang dipakai akan mempengaruhi tingkat validitas informasi yang diberikan. Jumlah sampel yang terlalu sedikit beresiko tidak dapat memberikan gambaran mengenai populasi, namun jika jumlahnya terlalu banyak akan membuat riset jadi tidak efisien. Berapa jumlah sampel yang seharusnya digunakan dalam riset adalah yang memiliki tingkat eror kecil dan sebaran datanya membentuk distribusi normal. Hingga saat ini memang belum ada aturan baku mengenai berapa seharusnya jumlah sampel yang digunakan dalam survei, namun para ahli sepakat jumlah sampel yang digunakan ditentukan oleh tingkat ketelitian data yang diinginkan, sifat analisis yang digunakan, tingkat homogenitas anggota populasi, dan ketersediaan biaya dan waktu. Jumlah sampel yang besar tentu akan memiliki tingkat ketelitian yang lebih besar, dapat digunakan untuk berbagai macam teknik analisis, namun akan membutuhkan biaya yang besar dan waktu pengumpulan data lebih lama.


Penentuan Jumlah Sampel Berdasarkan Tingkat Ketelitian Data yang Diinginkan

Tingkat ketelitian ini berhubungan dengan probabilitas dan eror. Sampel yang baik adalah yang memiliki tingkat eror yang kecil. Bila kita ingin percaya sebesar 95% bahwa nilai dugaan yang kita peroleh perbedaannya tidak melebihi nilai eror dari rataan populasi maka kita dapat memperkirakan besarnya sampel dengan menggunakan rumus:










Dimana Z adalah nilai yang diperoleh dari tabel distribusi Z. Jika kita menggunakan nilai eror atau alfa (α) sebesar 5% maka nilai Z yang digunakan adalah 1,96. σ2 adalah varians dari penelitian sebelumnya. Dengan sedikit memodifikasi rumus tersebut kita akan memperoleh rumus untuk memperoleh jumlah sampel sebanyak n.





Namun jika kita tidak mengetahui varians dari penelitian sebelumnya, misalnya karena penelitian tersebut baru kali ini dilakukan maka kita dapat menggunakan pendekatan proporsional untuk menghitung nilai n.

















Pada persamaan di atas P adalah proporsi yang digunakan. Untuk riset loyalitas pelanggan peneliti biasa menetapkan nilai P= 0,5 dengan asumsi bahwa setengah dari pelanggan sudah puas dan sebagian lagi masih belum puas.

Contoh:

Sebuah survei dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasaan konsumen produk sabun Lifebuoy. Pengambilan responden dilakukan secara acak dengan ketentuan tingkat kepercayaan sebesar 95% dan nilai sampling error tidak lebih dari 10%. Berdasarkan data sebelumnya, diduga bahwa proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi sabun Lifebuoy sebesar 70%. Maka banyaknya jumlah sampel yang harus diambil minimal:







Angka 1,96 merupakan nilai Z untuk CI= 95%, sementara 0,7 adalah proporsi rumah tangga yang diduga mengkonsumsi sabun Lifebuoy. Nilai ini diperoleh dari penelitian sebelumnya. Namun jika nilai tersebut tidak diketahui kita dapat menggunakan 0,5. Hasil dari persamaan tersebut diketahui bahwa peneliti membutuhkan setidaknya 81 sampel agar nilai eror minimal.


4.    Menentukan Teknik Pengambilan Sampel

Setelah peneliti menentukan siapa yang layak menjadi sampel dalam survei, langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana cara mengambil sampel dari kerangka sampel. Setidaknya ada dua teknik pengambilan sampel, yaitu pengambilan sampel yang menggunakan probabilitas (probability sampling) dan teknik pengambilan sampel yang dilakukan tanpa perlu menghitung probabilitasnya dahulu (non-probability sampling).

Probability sampling mengasumsikan bahwa setiap individu yang berada dalam populasi sasaran memiliki peluang yang sama untuk terambil sebagai sampel. Setidaknya ada empat teknik pengambilan sampel berdasarkan peluang ini, yaitu: simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling dan systematic sampling.

Simple random sampling
Teknik pengambilan sampel secara acak dan sederhana ini mungkin yang paling sering digunakan karena teknik ini dianggap paling mudah dan efisien. Umumnya peneliti menggunakan teknik ini karena informasi yang dimiliki untuk mengidentifikasi sampel kurang lengkap, misalnya peneliti hanya mengetahui lokasi kota tempat populasi berada. Selain itu ketika akan menggunakan teknik ini kita harus menjamin bahwa tiga syarat terpenuhi. Pertama, jumlah anggota tidak terlalu besar. Kedua, seluruh anggota populasi telah terdaftar dalam kerangka sampel. Ketiga, kondisi populasi relatif homogen.

Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil secara acak sampel dari kerangka sampel yang paling dasar, misalnya data mengenai rumah tangga yang lengkap hingga nomor rumah pun diketahui. Pengambilan sampel acak ini sangat mudah seperti mengambil sebuah bola dari dalam keranjang tanpa melihat bola tersebut. Kita dapat menggunakan program untuk mengacak nomor individu yang akan menjadi sampel.


Systematic random sampling

Teknik systematic random sampling  dilakukan dengan cara memilih satu sampel secara acak dan menarik contoh selanjutnya pada setiap jarak K dari satuan contoh yang ditarik sebelumnya. Nilai K diperoleh dari membagi besar populasi (N) dengan jumlah contoh yang akan diambil (n).






Prosedur umum melakukan teknik dimulai dengan menetapkan jumlah sampel (n) yang akan diambil. Setelah itu kita hitung interval pengambilan contoh (K). Pilih nomor responden dari kerangka sampel secara acak dimana nilai r adalah 1< r <K. Terakhir pilih anggota ke-r dari daftar kerangka sampel tersebut, kemudian lanjutkan pengambilan contoh dengan populasi dengan menggunakan interval sebesar K.

Stratified random sampling

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan menyekat anggota populasi menjadi beberapa sub-populasi atau strata. Kemudian dari setiap strata tersebut ditarik sampel secara terpisah sehingga antar strata menjadi bebas stokastik. Tujuan dibentuknya strata ini adalah untuk meningkatkan ketepatan penduga parameter populasi dan menjamin bahwa sebagian populasi cukup memberikan gambaran keadaan yang sebenarnya dari populasi. Perlu diketahui oleh peneliti yang berniat menggunakan teknik bahwa keragaman strata harus lebih sedikit daripada keragaman populasi. Atau dengan kata lain anggota dalam satu strata cenderung homogen, sedangkan antar strata cenderung heterogen. Teknik ini baik digunakan jika biaya penarikan sampel antar strata berbeda dan peneliti ingin menduga parameter dari setiap strata tersebut.

Cluster random sampling

Dalam cluster random sampling unsur-unsur populasi dikelompokkan menurut letak yang berdekatan yang disebut cluster. Anggota dalam cluster yang sama cenderung heterogen, namun sebaliknya antar cluster cenderung mirip. Karakteristik ini bertolak belakang dari strata. Kemudian dari cluster tersebut dipilih sampel secara acak. Pemilihan atau pengambilan sampel ini ada dua cara: single step dan multi-stage. Cara pertama dilakukan jika seluruh anggota cluster dijadikan sampel. Namun, jika dari cluster  tersebut hanya diambil beberapa sampel secara acak maka kita menggunakan teknik kedua yaitu multi-stage cluster sampling.

Penggunaan teknik cluster random sampling biasa digunakan oleh perusahaan riset. Kita ambil contoh seorang peneliti ingin meneliti tingkat kepuasan pelanggan produk pengolahan air bersih. Survey tersebut dilakukan di Jakarta dengan jumlah sampel sebesar 125 rumah tangga. Karena Jakarta terdiri dari lima wilayah administrasi dan peneliti tersebut ingin mendapatkan sampel dari seluruh wilayah Jakarta maka setiap kotamadya di wilayah Jakara diambill sampel sebanyak 25 rumah tangga. Kemudian peneliti menentukan di kecamatan dan kelurahan mana sampel tersebut diambil. Misalnya, untuk wilayah Jakarta Selatan secara acak diperoleh kecamatan Pasar Minggu. Lalu peneliti membuat daftar seluruh kelurahan di wilayah Pasar Minggu tersebut dan secara acak pula terpilih kelurahan Jati Padang. Kelurahan Jati Padang ini yang disebut cluster. Dalam satu kelurahan tentu terdiri dari masyarakat dengan karakteristik yang beragam.

Convenience sampling

Teknik convenience sampling termasuk dalam kategori penarikan sampel tanpa peluang atau dikenal dengan non-probability sampling. Berbeda dengan empat teknik yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu simple random sampling,systematic random sampling, stratified dan cluster random sampling yang menggunakan peluang dalam mengambil sampel, non-probability mengambil sampel berdasarkan keputusan pribadi peneliti atau pewawancara di lapangan. Teknik penarikan sampel ini merupakan yang paling banyak digunakan peneliti untuk riset mall-intercept,  FGD, uji produk baru dan in-depth interview karena teknik ini paling mudah dilakukan dan efisien. Kelemahan utama teknik convenienve sampling adalah jika tidak ada sampel yang dapat mewakili populasi, maka tidak ada metode statistik yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan.

Selain teknik convenience sampling, ada dua teknik pengambilan sampel tanpa peluang lainnya yaitu judgemental sampling dan quota sampling.

Judgemental sampling
Teknik ini hampir sama dengan convenience sampling dimana sampel diambil berdasarkan penilaian peneliti atau pewawancara. Biasanya penilaian peneliti tersebut atas dasar pengalaman peneliti, dengan maksud hasil yang diperoleh akan menggambarkan populasi sasaran. Jika kita ingin menggunakan teknik ini maka kita harus memiliki landasan yang valid dan logis dalam memilih sampel.


Quota sampling

Dari tiga bentuk non-probability sampling, teknik quota sampling merupakan yang paling baik. Pada teknik ini peneliti harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap pemilihan sampel yang dilandaskan pada satu atau lebih karakterisik populasi, seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Langkah pertama dalam teknik ini yaitu dengan membuat proporsi untuk kuota. Misalnya, dalam suatu populasi yang terdiri 1000 orang  dimana 48% adalah laki-laki dan 52% perempuan, ingin diambil sampel sebanyak 100 orang. Maka, laki-laki yang dipilih menjadi sampel adalah sebanyak 48 orang dan untuk perempuan sebanyak 52 orang. Tujuan utama dari teknik ini adalah untuk mendapatkan sampel yang proporsional sehingga dapat memberikan gambaran kondisi populasi yang sebenarnya.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan Oleh Pelaksana Survei

Pada pertemuan pertama antara perusahaan sponsor dan pelaksana survei umumnya membahas perencanaan survei. Pada pertemuan tersebut perusahaan sponsor menjelaskan permasalahan mereka, tujuan survei, dan juga sumber daya yang tersedia. Perusahaan sponsor kemudian akan menanyakan metode apa yang akan dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa survei untuk menjawab kebutuhan infomasi tersebut. Oleh karena itu beberapa hal berikut perlu dilakukan oleh perusahaan pelaksana survei:

  1. Pelaksana survei perlu memberikan penjelasan mengenai keunggulan dan kekurangan masing-masing metode survei sesuai dengan tujuan survei itu sendiri.

  2. Sebelum melakukan pertemuan dengan sponsor sebaiknya perusahaan riset mempersiapkan berbagai informasi yang dapat melengkapi latar belakang survei.

  3. Definiskan masalah berdasarkan problem, issue dan ketidakpastian yang dihadapi oleh sponsor.

  4. Tidak ada salahnya menanyakan kepada sponsor keputusan atau tindakan apa yang akan diambil berdasarkan hasil survei.

  5. Hitung waktu dan juga biaya pelaksanaan survei.

  6. Jelaskan bantuan apa saja yang dapat disediakan oleh perusahaan riset.

  7. Tingkatkan kepercayaan sponsor mengenai riset yang akan dilaksanakaan. Jelaskan bagaimana perusahaan menjaga validitas hasil survei, ketepatan waktu pelaksanaan dan sebagainya.
    Kerja sama antara perusahaan sponsor dengan perusahaan penyedia jasa riset akan menjadi simbiosis mutualisme jika disertai dengan komunikasi yang baik. Seringkali perusahaan sponsor tidak puas dengan informasi yang disajikan oleh perusahaan riset karena informasi tersebut dianggap tidak dapat menjadi titik terang dari masalah yang dihadapi. Oleh karena itu antara perusahaan sponsor dengan perusahaan riset harus terjalin komunikasi yang baik. Perusahaan riset mengetahui berbagai teknik survei, namun yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan oleh perusahaan sponsor adalah mereka sendiri. Dengan mengkomunikasikan kebutuhan informasi tersebut, perusahaan riset dapat membantu merancang desain riset yang terbaik agar hasil riset menjadi maksimal. Materi mengenai desain riset akan kita bahas pada bab berikutnya.

Monday, November 16, 2015

Hal-hal yang Perlu Dilakukan Oleh Sponsor Survei

Seperti yang sudah disebutkan, survei merupakan teknik riset yang paling populer bahkan dikalangan industri (dalam hal ini perusahaan-perusahaan). Sebagian perusahaan biasanya memiliki departemen sendiri yang bertugas untuk melakukan riset, namun sebagian lainnya memilih menggunakan jasa perusahaan riset. Perusahaan yang sudah memiliki departemen riset sendiri pun tidak jarang menggunakan jasa perusahaan riset. Perusahaan yang menggunakan jasa pihak lain untuk melaksanakan sebuah riset disebut dengan sponsor. Keputusan untuk menggunakan jasa pihak lain untuk melakukan riset atau tidak tergantung pada tujuan riset dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Biasanya perusahaan cenderung lebih suka menggunakan jasa pihak ketiga (perusahaan riset) karena data yang diperoleh lebih lengkap, informasi yang disediakan lebih independen, dan waktu pengerjaan yang lebih cepat.

Meskipun menggunakan jasa perusahaan riset menawarkan sejumlah keunggulan, perusahaan perlu melakukan empat hal berikut agar riset menjadi efektif dan tidak membuang sumber daya sia-sia:

  1. Lengkapi pelaksana survei dengan informasi yang cukup mengenai latar belakang mengapa survei perlu dilakukan. Perusahaan sponsor perlu juga menambahkan isu-isu terbaru. Lakukan diskusi dengan perusahaan riset agar perusahaan riset memahami dengan jelas permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan.

  2. Indikasikan informasi seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan. Setiap perusahaan yang melakukan riset tentu memiliki masalah yang berbeda. Ada perusahaan yang melakukan riset untuk mengetahui tingkat loyalitas pelanggan sehingga perusahaan dapat merancang program untuk mempertahankan pelanggan. Namun ada juga perusahaan yang melakukan riset hanya untuk mengetahui pasar apa yang masih potensial.

  3. Perusahaan sponsor harus menjelaskan keputusan atau tindakan apa yang akan diambil berdasarkan hasil survei.

  4. Perusahaan sponsor perlu menjelaskan jangka waktu dan biaya yang dapat disediakan untuk melaksanakan survei.
    Perusahaan riset biasanya juga menyediakan jasa konsultasi untuk para sponsornya. Tujuan utama dari konsultasi tersebut adalah untuk merencanakan riset yang efektif dan efisien. Konsultasi dan diskusi yang rutin juga merupakan sebuah cara untuk mengontrol agar survei dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Survei Sebagai Teknik Riset yang Efisien

Survei merupakan suatu bentuk untuk mengumpulkan data dalam sebuah riset. Berbeda dengan sensus yang menggunakan seluruh anggota populasi, survei hanya mengambil beberapa anggota populasi saja untuk dijadikan sampel penelitian. Walaupun metode sensus memiliki akurasi yang sangat baik, namun metode survei lebih banyak digunakan oleh perusahaan maupun individu karena metode survei ini menawarkan dua keunggulan yaitu fleksibilitas dan efisiensi. Survei hanya menggunakan beberapa anggota populasi sehingga biaya untuk riset dan waktu pelaksanaan riset bisa dihemat.

Saat ini metode untuk melakukan riset dengan menggunakan survei sudah sangat beragam. Jika dahulu survei dilakukan dengan cara peneliti mendatangi rumah responden satu per satu, sekarang dengan adanya bantuan teknologi peneliti bisa mewawancarai responden dari jarak jauh bahkan lintas negara. Untuk metode self-administered survei (yaitu survei dimana responden menjawab sendiri kuesioner yang diberikan) bisa dilakukan lebih cepat dengan menggunakan riset online maupun email. Jika peneliti ingin melakukan wawancara kepada responden yang berada di tempat namun memiliki keterbatasan waktu dapat menggunakan telepon maupun teleconference.

Ketika akan menentukan metode survei apa yang akan digunakan kita harus menyadari bahwa setiap metode tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Biasanya peneliti memilih metode survei yang akan digunakan dengan mempertimbangkan dari sisi biaya, lama waktu pengerjaan jika menggunakan metode tersebut, dan berapa banyak informasi yang dibutuhkan. Jika kita membutuhkan informasi yang sangat detil dan mendalam maka lebih baik menggunakan metode wawancara kepada sejumlah narasumber. Beda halnya jika kita menginginkan informasi yang banyak, namun tidak terlalu detil, dalam waktu pengerjaan yang cepat dan biaya yang murah maka akan lebih baik jika menggunakan kuesioner online.














Selain mempertimbangkan biaya, waktu dan jumlah informasi yang dapat diperoleh melalui survei, peneliti juga perlu memperhatikan kelemahan yang ada pada survei. Tujuannya adalah agar informasi yang diperoleh dari survei dapat sesuai dengan kebutuhan.

Secara garis besar ada empat kelemahan utama dari survei: 

(1) survei tidak bisa digunakan untuk menguji hubungan sebab akibat yang hanya bisa diteliti melalui eksperimen, 
(2) survei yang menggunakan kuesioner sulit memperoleh jawaban yang sifatnya sensitif, 
(3) survei akan selalu memiliki tingkat kesalahan, baik sampling error maupun non-sampling error, dan 
(4) survei tidak menjamin kebenaran keputusan manajemen karena hasil survei pada dasarnya hanya berupa fakta atas suatu peristiwa yang menjadi rujukan pembuatan keputusan.

Saturday, November 14, 2015

The Closed Loop of Research

Proses riset merupakan proses yang terintegrasi mulai dari tahap input data hingga aplikasi hasil riset kepada pengguna (user). Sebagai instrumen untuk menjawab permasalahan perusahaan, setiap tahap dalam proses riset melibatkan peran manajemen perusahaan yang digambarkan dalam The Closed Loop of Research – sebuah bagan yang menggambarkan siklus data dan informasi dalam riset dan peran manajemen dalam riset.

Data untuk riset bisa beraneka macam, namun secara umum data dalam riset dikelompokan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah jenis data yang diambil langsung dari responden dan diperuntukan untuk tujuan riset yang sedang dilakukan, sedangkan data sekunder merupakan data yang digunakan kembali untuk tujuan yang mungkin berbeda dari tujuan awal data tersebut dikumpulkan.



















Proses riset dimulai dari menginput berbagai data yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan. Data untuk riset dapat berasal dari berbagai sumber. Untuk data sekunder kita dapat menggunakan data yang disediakan oleh lembaga pemerintahan, perusahaan riset, artikel berita, berita online, jurnal dan sebagainya. Data yang diinput kemudian diuji tingkat validitasnya baru kemudian diolah secara manual maupun dengan menggunakan software statistik. Dari hasil pengolahan data kita dapat menarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan riset kita.

Dari hasil temuan riset kita dapat menarik kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang ingin kita jawab. Kesimpulan ini akan kita jadikan bahan utama untuk membuat laporan riset. Namun, kesimpulan sejogyanya hanya merupakan fakta, dimana fakta tersebut tidak akan memberikan manfaat banyak jika tidak disertai dengan saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Maka pada saat menyusun laporan kita perlu memberikan masukan berupa saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah. Kita juga perlu mencantumkan apakah ada hambatan pada saat melakukan riset.

Hasil laporan riset ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan. Keputusan yang sudah diambil oleh tim manajemen kemudian diimplementasikan hingga level bawah perusahaan. Pada saat implementasi ada bagian yang menjalankan fungsi kendali yaitu untuk mengawasi apakah masing-masing fungsi menjalankan kebijakan yang sudah dibuat. Pada sisi ini perusahaan membutuhkan alat untuk evaluasi. Kemudian hasil evaluasi ini bisa menjadi bahan riset berikutnya, misalnya riset untuk menilai kinerja karyawan.

Dalam setiap tahap dalam proses riset harus ada keterlibatan dari pembuat kebijakan atau biasanya top management. Riset yang dilakukan oleh perusahaan biasanya bertujuan untuk menemukan solusi atas permasalahan strategis perusahaan, walaupun mungkin aplikasinya hanya pada sub-bisnis atau fungsi tertentu. Keterlibatan top management ini diperlukan agar riset dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Efektif berarti hasil riset dapat menjawab permasalahan perusahaan dan efisien berarti tidak ada sumber daya yang terbuang percuma.